Kalian mungkin bertanya
Siapa Moja?
Mengapa Moja?
Jauh sebelum aku mengenalmu
Hanya Moja yang menjadi temanku
Yang mengajarkan kehangatan
Yang mengajarkan kesetiaan
Yang mengajarkan keikhlasan
Tanpa menuntut satu apa pun
Moja
Memang bukan nama murni yang kucipta untuknya
Sedikit mencomot dari tokoh kartun sederhana saat aku kecil dulu, Mojako
Maharaja sebagai awalan
Tentu saja untuk membuktikan bahwa Moja adalah raja segala raja
Dia menjadi yang utama bagiku
Dan nyatanya hingga kini itulah yang terjadi
Maka dari itu aku namakan dia Moja
Maharaja Moja Moja
Moja hanyalah anjing lokal dengan segala sesuatu yang spesial pada dirinya
Aku telah memiliki dua Moja dalam hidupku
Yang pertama, aku temukan ia di sebuah rumah kosong tua dan sangat reyot di sebelah rumahku dulu. Aku menemukannya lewat mimpi tentang manusia televisi yang terus-terusan menggonggong di dalam rumah tua itu. Sayang, umurnya tak panjang. Ia mati tenggelam di selokan depan rumahku sendiri yang sangat dalam dan pekat. Masih teringat jelas ketika aku enggan meninggalkan ia yang terbujur lemas di samping api yang sengaja dinyalakan untuk menghangatkan dirinya, aku mendengar ia melolong keras dengan segala sisa tenaganya guna menghentikan tangisku dan seakan mengisyaratkan sebuah salam perpisahan dengan sejumput rasa terimakasih karena ia pulang dengan berselimut kasih.
Yang kedua, aku dapatkan dari kakekku tersayang. Beliau memberikan padaku agar aku tak melulu larut dalam kesedihan pertamaku. Kami pergi ke sebuah surga bagi para hewan terlantar kesepian dengan beragam latar belakang, Pondok Pengayom di daerah Ragunan. Aku memilih sendiri anjing yang akan aku pelihara. Lagi-lagi anjing lokal. Bermata coklat dengan bulu hitam coklat yang tak terlalu pekat. Si kecil yang kemudian menjadi satu-satunya harta peninggalan kakek yang khusus ia berikan padaku, sebelum beberapa tahun kemudian ia pergi dalam tidurnya. Itu merupakan kepergian kedua yang aku rasa terberat semasa kecilku. Dan saat itu, selain orang tuaku, hanya Moja yang dapat menenangkan aku dari segala isak tangis dan kesedihanku.
Jauh sebelum aku mengenalmu
Hanya Moja yang menjadi temanku
Yang mengajarkan kehangatan
Yang mengajarkan kesetiaan
Yang mengajarkan keikhlasan
Tanpa menuntut satu apa pun
Moja hanyalah anjing lokal dengan segala sesuatu yang spesial pada dirinya
Anjing kecil bermata coklat dengan bulu hitam coklat yang tak terlalu pekat
Masa kecilku dipenuhi Moja
Lolongannya yang khas
Tatapannya yang menghangatkan
Kehadirannya yang melengkapi aku
Tak pernah terlupa dalam ingatanku, tampang Moja yang riang gembira setiap kali mendengar deru mesin mobil kami yang berjalan mendekati rumah. Moja berlari sambil menyanyi khas di samping jendela tempatku mengeluarkan tawa karena menatap ulah konyolnya. Melompat-lompat kegirangan melihat kami tiba kembali.
Tak pernah terlupa dalam ingatanku, hangat tatap mata Moja yang sendu penuh simpati setiap kali aku mulai menangis karena suatu hal. Moja mulai mendekat dan mengendus tanganku, kemudian menggesekan bulu halusnya dipermukaan kulitku. Mencoba terus ada di sampingku agar aku dapat memeluknya dan menceritakan segala keluh kesah yang kurasa. Menghiburku dengan segala tingkah konyolnya yang khas.
Tak pernah terlupa dalam ingatanku, malam itu...
Aku di atas sebuah rakit kecil dalam gelap dan dingin air banjir. Aku di atas sebuah rakit kecil diantara lelaki dewasa yang menemani aku mendapatkan kembali sahabat setiaku. Ia telah menantiku lebih dari sepekan. Dalam gelap dan keheningan tanpa kawan. Ditengah banjir tahunan yang kala itu menguras habis semua benda kenangan dalam rumah sederhanaku. Aku di atas sebuah rakit kecil sekali pakai, yang menjadi bukti penebus salahku yang terpaksa meninggalkan ia sendiri di rumah itu. Aku di atas sebuah rakit kecil di tengah kerumunan rasa cemas dan takut kekanakanku akan kegelapan malam. Moja telah menantiku lebih dari sepekan. Dalam gelap dan keheningan tanpa kawan. Menanti kehadiran aku yang membawanya pergi dari segala sepi tuk menggantikannya dengan hangat. Perlahan kami berjalan. Menembus hawa dingin dan menepis bulu roma kami yang berdiri karena kota sepi tak berpenghuni direndam air setinggi leher orang dewasa. Aku anak-anak sendiri. Tak lebih dari 11 tahun umurku kala itu. sengaja pergi guna menjemput sahabatku yang menanti telah hari ini tiba selama lebih dari sepekan.
Ketika berhasil memasuki pekarangan rumah yang tak lebih dari hamparan air hitam pekat dingin yang nyaris membekukan nyali kami, aku mulai memanggil nama sahabatku itu. Sayup-sayup kudengar lolongan ringan yang amat sangat akrab ditelingaku. Lalu disusul dengan gemercik dan suara cipratan air yang menandakan ia sedang berenang menujuku. Aku tak dapat melihat bayangnya ditengah gelap yang hampir sempurna kala itu. sampai kemudia aku melihatnya melompat dalam pelukanku. Moja, sahabatku. Harta terakhir yang kakek beri padaku. Kubairkan ia menjilati tubuhku. Aku peluk dan berjanji tak akan menginggalkan ia sendiri lagi. Malam itu, aku pulang dengan senyum puas mengembang. Bersama sahabatku dalam pangkuan, di atas rakit kecil di tengah gemercik air hitam pekat dingin setinggi leher orang dewasa.
Namun sepertinya kami memang ditakdirkan bukan untuk berjalan beriringan sepanjang jalan...
Malam itu berubah menjadi bencana, ketika penolakan terjadi di tempat aku mengungsi sementara. Moja diusir. Mereka tak menginginkan ada makhluk yang dianggap najis itu ada di sekitar mereka. Sahabatku disuruh pergi pagi nanti. Bagaimana pun caranya, ia harus segera angkat kaki. Karena mereka tidak menginginkan ada makhluk yang dianggap najis itu ada disekitarnya.
Aku hanya menangis. Menangis tanpa bisa berhenti. Memeluk sahabatku bermata coklat dengan bulu hitam coklat yang tak terlalu pekat. Moja.
Pagi itu, dengan berat hati aku antarkan sahabatku ke tempat semula aku pertama berjumpa dengannya. Tempat dimana aku memilihnya sebagai sahabatku diantara ratusan pilihan sahabat serupa dengannya, Pondok Pengayom di daerah Ragunan. Sebuah pondokan kecil bak surga bagi para hewan terlantar kesepian dengan beragam latar belakang. Aku menangis tak karuan ketika terpaksa meninggalkannya dalam ruang kaca. Berpura-pura tersenyum ketika ia menatapku dari balik kaca jendela, aku ingin ia melihatku baik-baik saja ketika itu. Beberapa pekan berlalu. Banjir belum juga surut. Tak mungkin aku membawa kembali sahabatku di tengah mereka yang tak menginginkan kehadiran mahluk yang dianggap najis itu ada di sekitar mereka. Aku bersabar menunggu saat dimana kami dapat bercengkrama kembali. Saling menatap dalam dan mencoba membaca isyarat yang berlain bahasa di antara kita. Moja-ku..
Namun hari itu tak pernah datang...
Hari itu aku terbangun dari tidur lelapku
Berselimut selembar kenangan yang tertinggal bersama perginya sahabatku
Teringat kembali semua hal yang kami lalui
Saat tertawa, menangis, menjemput, kemudian akhirnya terpaksa berpisah
Moja tak pernah kembali..
Ia memutuskan untuk menjemputku
Ia pasti terus berlari
Meninggalkan tempat bak surga bagi para hewan tanpa kawanan
Ia pergi
Mencari aku
Berlari menjauh berharap mendekat kepadaku lagi
Sahabatnya
Seseorang yang telah memilihnya
Seseorang yang telah menjemputnya dengan rakit kecil di tengah banjir setinggi leher orang dewasa
Seseorang yang telah berpura-pura tersenyum saat terpaksa harus menitipkannya di tempat pertama mereka bertemu
Hari itu aku terbangun dari tidur lelapku
Berselimut selembar kenangan yang tertinggal bersama perginya sahabatku
Memeluk selembar selimut biru lusuhku...
***
Namanya Maharaja Moja Moja
Moja
Memang bukan nama murni yang kucipta untuknya
Sedikit mencomot dari tokoh kartun sederhana saat aku kecil dulu, Mojako
Maharaja sebagai awalan
Tentu saja untuk membuktikan bahwa moja adalah raja segala raja
Dia menjadi yang utama bagiku
Dan nyatanya hingga kini itulah yang terjadi