Showing posts with label 7.02.11 - 15:45:11. Show all posts
Showing posts with label 7.02.11 - 15:45:11. Show all posts

Saturday, April 23, 2011

dari iri sampai nyamuk


Pernahkah kau iri pada apa yang pernah kau dan orang lain lalui dalam hidupnya?
Iri pada sesuatu yang pernah dan belum pernah kau lalui.
Iri pada sesuatu yang sangatlah nyata tidak dapat lagi dan mungkin saja tak dapat kau menjejakinya.

yaaaa.. itu aku sekarang..

Iri terkadang membuatmu tersungkur tanpa tahu apa yang dapat kau lakukan.
Namun terkadang iri bisa pula jadi cambuk ampuh yang memacumu berusaha lebih keras lagi untuk dapat merengkuh kesungguhannya.


...


selamat malam si kecil setia menghisap kebosanan yang mengalir di darahku :)

malam ini aku lagi-lagi bertindak bodoh. untuk kesekian kalinya aku berpikir bulan di atas sana bersedia memberi jatah oksigen padaku, agar aku dapat menari leluasa di permukaannya. (-.-)


hey nyamuk kecil~
kau tahu, ada beberapa hal yang sangat aku takutkan jika tetap dambakan ia sedikit mengerti keinginanku.

aku sangat takut awan bosan memainkan selaput kapas lembutnya dengan manja dihadapanku. aku juga takut bunga liar oleng diterpa angin untuk kemudian mati kering diguyur sinar mentari, tanpa aku dapat berbuat apa pun  dan terlebih, aku sangat takut mawar kecil  tumbuh menjadi monster menawan  dengan duri yang diam-diam potensial melukai.


hey nyamuk kecil, jangan begitu aaah..
kan aku sudah bilang, kamu tak harus paham benar permainan kata yang aku lukiskan ini kok..
toh kehadiranmu yang mau menjadi tong curhatku saja sudah sangat melegakan malam ini..
sungguh..   :)


nyamuk kecil..
aku mau bulan mengerti bahwa aku juga punya  nilai harga yang pantas dibayar dengan sedikit 'memberikan oksigen khusus' padaku.
hmmm.. kira-kira apa ya yang dapat aku lakukan agar bulan hendak mengubah sifat absolutnya itu?

satu hal yang kau perlu tahu, nyamuk kecil..
aku di sini, bukan untuk memonopoli bulan, namun aku ingin ia belajar menghargai makhluk kecil yang menumpahkan impian besar padanya dan telah terlanjur jatuh cinta pada cahayanya di tiap malam. :)

... 


"kuatlah kamu, maka kamu akan kuatkan kita. jangan biarkan dirimu patah, karena itulah yang kelak dapat melemahkan kita. aku ada, bukan karena ingin menggiringmu. namun ingin berjalan beriringan bersamamu"

lelakiku, wahid mizan annifari
aku sayang kamu...

Thursday, April 21, 2011

ke-ilmu+kastrat-an

terima dan pahami-lah..
aku dengan buletin dan menulis-ku
kamu dengan propaganda dan aksi-mu




saling belajar dan berbagi ilmu juga pengalaman seru 'dunia baru' (^-^)

Wednesday, April 20, 2011

dua organisme dinamis


diawali
cukup sebutir simbol
W
kemudian disusupi satu simbol lagi
MW
keduanya nyaris serupa, hanya bertolak arah


(kenapa tidak)WM?
(kenapa harus selalu) MW?

kesetaraan gender ikut bermain dalam pemberian inisial?
aah.. lagi-lagi soal refleksi hak asasi diterjemahkan seenaknya
perbedaan yang ditonjolkan hanya akan membuat manusia hilang arah
saling iri dengan lingga yang menancap juga iri dengan nori yang mengerat


MW atau WM
bukan tentang lelaki pertama dan wanita utama
yang tersirat dan menjadi makna dari kata pertama nama mereka
namun tentang apa yang menjadi alur dari perpaduan dua variabel organisme dinamis


M dan W
adalah sebuah nama
benih harapan diciptaan keluarga
dengan asal kosa kata yang sungguh berlainan
mencondongkan keduanya pada kedua kutub berbeda budaya


arus yang menyisir alur, pada setapak berbeda, namun dalam rel ganda yang telah bertaut. semoga kelak kan tetap menjadi rantai mutualisme intim yang saling terekat.

Saturday, February 19, 2011

mata.hati.telinga.langkah.bicara

Ia berubah 180° sejak hatinya tertampar ‘telapak kata’. Menjadi lebih berhati-hati menjaga mata, hati, telinga, langkah, juga bicara.

Alangkah bodohnya ia, terjebak dalam pusaran intermezzo panjang. Hanya berguling-guling di tempat, tanpa ada usaha setimpal untuk menjadikan segala tampak lebih nyata. Betapa malunya ia, saat kemudian hari menyadari dirinya bermandi detik-detik hampa yang menjual rasa semata. Berlama-lama memanjakan diri dalam kubangan harapan yang nyatanya memang hanya harapan.

Setiap manusia memiliki ruang dalam dirinya yang terdiri dari berbagai kepingan jiwa yang saling berbeda satu sama lain. Kesemuanya itu, jika berhasil digabungkan akan menjadi sebuah gambaran khas yang membangun jati diri orang itu. Entah mungkin kepingan serupa puzzle itu kelak akan berwarna jingga menyala atau malah kelabu kebiruan. Terkadang tak jarang beberapa hasil bernuansa paduan keduanya.

Ia merasa kepingan berwarna keperakan miliknya yang dulu hinggap dalam ruang pengap, kini beterbangan mencari induk semang baru yang pantas dijajaki. Melayang lintasi berbagai macam keping serupa yang bukan miliknya saja. Terus mencari tanpa arah pasti yang tak terpatri dalam peta perjalanannya. “Biarkan begitu”, katanya. “Manusia memiliki kebebasan dalam beraspirasi dan mengeksplorasi diri yang terlegitimasi dalam hak asasi. Jadi mengapa kepingan-kepingan jiwa harus dikekang dan tak boleh bebas tentukan dimana dan pada siapa akan menambatkan jangkarnya serentak pada tempat yang sama?!”

Sejak saat itu, ia sadar bahwa jiwa dan raganya bukanlah boneka yang mudah dibeli dengan sejumlah receh remeh-temeh, lalu kemudian begitu saja terlupa jika si pembeli telah jenuh menjamah dan malas meremas. Ia membiarkan kepingan jiwanya beterbangan, tanpa mengizinkan predator penjual mimpi mengekang kebebasannya sebagai elang liar yang terjebak dalam tubuh manusia lemah dengan rahim menempel di pangkal pahanya.

Ia berubah 180° sejak hatinya tertampar ‘telapak kata’. Menjadi lebih berhati-hati menjaga mata, hati, telinga, langkah, juga bicara.

Menelaah kebersamaan terdahulu. Mengevalusi seciduk kecil kenangan yang tersiram vormalin keyakinan berselimut tipis ragu. Mempisahkan si M, si S, dan si A dalam beberapa ruang suci berisi kebaikan dan pelajaran yang telah mereka beri. Mengaplikasikan sebagian kecil harapan tentang bagaimana seharusnya ia bertindak agar tetap berjalan di rel yang tepat. Menyisihkan sebagian besar lainnya dalam kotak hitam legam yang terbuat dari logam asli tanpa kunci, biar tak pernah biasa ia buka kembali kemudian hari.

Dua sisi berbeda dalam dirinya pernah berseteru seru, guna tentukan harus memenjarakan atau melepas segala kepercayaan yang lama ia titi dan pupuki dengan kesabaran atas keterbatasan. Sampai akhirnya ia tau, bahwa kepingan keperakan dirinya haruslah berhenti jelajahi sapuan matanya yang berotasi dari lusinan lelaki tinggi, kurus, putih, kekar, mekar, aktif, atau bahkan yang apatis superstatis. Butuh lebih dari sejuta kali ledakan atom ragu hingga terpecah menjadi potongan kecil nano percaya, yang kemudian berekatan mesra menjadi kekuatan baru untuk menyakini dua kata sederhana; membuka dan menerima.

Ia berubah 180°. Menjadi lebih berhati-hati menjaga mata, hati, telinga, langkah, juga bicara.

Bukan mata yang ia ingin manjakan, sehingga ia hindari terjebak dalam ilusi keindahan yang nyaris lebih sering menjadi pemangsa bagi orang yang terlena kepadanya. Bukan hati yang ingin ia abadikan, sehingga ia hindari menari di atas permainan rasa yang berayun ringan karena dilumuri oli mimpi. Bukan telinga yang ingin ia refleksi, sehingga ia hindari terhenyak lagu mendayu yang sebenarnya hanya lelucon lucu agar akal rasional tertutup cumbu rayu romantisme klasik palsu. Bukan langkah yang ingin ia rintis, sehingga ia hindari berjalan dengan tangan tertambat lambat-lambat yang hanya alihkan diri dari kata “beriringan” jadi kekuasaan untuk saling “mengiring”. Bukan bicara yang ingin ia utamakan, sehingga ia hindari melegalkan segala kata formal macam gombal yang sepertinya tak pantas dijebloskan dalam rangkai kata yang patut dipuja dan dipenuhi segala maksud dibaliknya.

Ia berubah 180°. Namun nyatanya bukan lagi karena hatinya tertampar ‘telapak kata’, lalu kemudian karenanya ia menjadi lebih berhati-hati menjaga mata, hati, telinga, langkah, juga cara bicara.

Ia berubah 180°. Bukan karena masa lalu yang membuat ia kapok. Namun karena merasa malu baru tahu karena dulu ia membutuhkan kehadiran bapak-ibu bak bayi berpopok.

Perasaan itu bukanlah kongsi dagang. Maka ia tak mau tawar menawar cinta atau malah obral sayang dengan tujuan seseorang dibuat mabuk kepayang atau terbang layaknya layang-layang.

Perasaan itu adalah angin yang berhembus sesuka hati atau embun yang hinggap sekali namun berarti. Perasaan bukan kamar 3x4 berlapis jeruji. Perasaan lebih dari segala apa yang pernah ia, kamu, aku, atau mereka beri. Dapat saja bergulir, tapi AKU memilih untuk anti-bergilir.