Monday, April 11, 2011

Main-Main ala Tuhan

Pagi Tuhan
permainan macam apa yang hendak Kau mainkan bersamaku hari ini?


petak umpet?
aaahh.. aku sudah bosan, Tuhan.

apa lagi yang hendak Kau sembunyikan?

2 bulan lalu
pikiran rasional domba-domba, telah Kau sembunyikan di balik semak-semak sempit.
kini mereka tidak lagi bisa membedakan mana rumput liar yang pantas dan tidak pantas untuk mereka makan.
mereka jadi buta untuk aplikasikan perspektif holistik jika harus sikapi tindak-tanduk minoritas kerumunannya.
jadi serba ego.
bikin aku melonggo tiap lihat tingkah lucu mereka.



kuda-kudaan?
aaahh.. aku lelah, Tuhan.

apa lagi yang hendak Kau sampirkan di atas punggungku?

4 bulan lalu.
rantai objektifitas potensial anomie telah Kau sampirkan di untai rapuh tulang punggungku.
itu tak cukup menantang pula bagi-Mu, sehingga benang kusut kata-kata buat semua layak dikata salah makna dan terima bagi pihakku, kau sisipkan pula sebagai beban.
segala amarah.
segala salah sangka.
aku nampak salah.
kau tahu?
mereka tidak lagi menyodorkan selimut hangat berajut tawa tulus.
mereka jadi pada kelu untuk sekedar mengaku kalau kita masih akan terikat jadi satu.



taruhan?
aaahh.. Kau sungguh lucu, Tuhan.

apa lagi yang akan kau pertaruhkan di altar pertandingan?

7 bulan lalu.
saat itu, kupertaruhkan air perasan rasa yang telah lama Kau beri secara cuma-cuma.
lalu Kau sandingkan ia dengan jaminan goresan warna yang lebih beragam di sampul depan kehidupan baruku.
sayangnya,aku kalah.
rasa itu berubah.
menjadi asa yang mengkerak di dasar panci hati.
namun itu tak cukup pula bagi-Mu.
warna yang kau lontarkan, nyatanya tak lebih dari seberkas mega manja kala senja.
kini segalanya nampak seperti TV hitam-putih membosankan, Tuhan.
cepat-cepat ingin aku rekontruksi isi agar lebih bervariasi sajiannya.



hey Tuhan
boleh aku pilihkan permainan kita kali ini?

hmmm..
bagaimana kalau kita main drama?
perannya menjadi anak umur 5 tahun yang belajar memelukis?
pasti seru..

kau tahu, Tuhan?
aku sungguh ingin melukis ulang kanvas yang 8 bulan ini aku kotori dengan cipratan cat abstrakis.
lukisan rumit dengan repetisi bodoh yang menyedihkan.
aku ingin menumpahkan cat putih di sana, Tuhan.
lambat-lambat aku ingin kembali mengisi ruang.
muntahkan pelangi tipis warna-warni dari botol-botol cat ke atasnya.
membuat kanvas itu lebih indah.
lebih hidup dan punya makna.


*Tuhan aku harap kau tak marah karena segala kata yang meluncur begitu saja dari jemariku. maaf aku belum cukup istimewa untuk dikata sebagai ummat-Mu yang baik.
kau tahu, aku mencoba untuk itu.
walau terkadang aku lelah. tapi aku mencoba.
tak ada yang aku janjikan padamu, kecuali hatiku yang tak akan berpihak pada irrasionalitas moral dengan mengkucilkan semut-semut kecil di ladang permainan-Mu ini.

nyatanya memang masih bocah

kesendirian tidak boleh mengantarkanku pada kesepian


suatu pagi di hari minggu di kamar kost. ketika beranjak tuk mandi pun aku malas -.-