Showing posts with label lelah perah jadi marah (kotak otak). Show all posts
Showing posts with label lelah perah jadi marah (kotak otak). Show all posts

Saturday, May 7, 2011

lingga-yoni

benarkah wanita iri karena ia hanya punya yoni, bukan lingga yang gagah lambangkan kuasa atas kerapuhan lawan mainnya?






yoni  ; lambang kebetinaan bagi perempuan
lingga; lambang kejantanan bagi lelaki

*temukan jawabannya pada posting berikutnya :)

Wednesday, April 20, 2011

apa yang cocok untuk menyebut 'ini'?


Ada kalanya sesuatu yang kau anggap adalah sebuah kehendak bebas, menjadi terbatas ketika orang lain merasa hal tersebut juga mengusiknya pula. Ketika urusan pribadi tak lagi hanya milik satu dua orang, tetapi juga menyangkut prilaku berbeda yang tak dikehendaki khalayak. Banyak yang menuntut. Namun tak bicara. Hanya diam serba rapat. Namun berjalan di tempat dalam diam.

Adakah perempuan lain dengan seorang lelaki yang memiliki 'beban kepercayaan di pundaknya' juga merasakan hal yang sama? Tatkala kebersamaan yang mereka putuskan menjadi suatu yang pantas dipersalahkan di mata orang lain.

Jika kiranya setapak menuju bangku taman itu tak semulus yang diharapkan, apakah itu menjadi sebuah landasan yang harus selalu dipermasalahkan jika nyatanya setapak tersebut sudah sama ratanya dengan aspal jalan-jalan perkotaan?

Waktu nampaknya tak berniat menghampiri, untuk sekedar memanjakan tubuh kami agar dapat bersandar sebentar di pondokan kayu tua yang nyaris lapuk dimakan bicara. Segala nampak biasa saat kami mulai masuk, guna melihat apa nian yang ada di dalamnya. Tetapi si pondokan reyot itu runtuh begitu saja, ketika kami mulai melangkahkan kaki keluar dari daun pintu yang menggelayut malas pada engselnya. Lantai berderit jerit. Mencicit tak karuan. Tepat setelah punggung-punggung kami melewati sisi-sisi serupa porselen pada detik sebelumnya.


tak harus mengerti apa yang kubicarakan di sini. bagiku, bermain kata sungguh kegiatan bodoh yang menyenangkan. merangkai rasa lewat aksara yang hanya diri sendiri ketahui. :)

Monday, April 11, 2011

Main-Main ala Tuhan

Pagi Tuhan
permainan macam apa yang hendak Kau mainkan bersamaku hari ini?


petak umpet?
aaahh.. aku sudah bosan, Tuhan.

apa lagi yang hendak Kau sembunyikan?

2 bulan lalu
pikiran rasional domba-domba, telah Kau sembunyikan di balik semak-semak sempit.
kini mereka tidak lagi bisa membedakan mana rumput liar yang pantas dan tidak pantas untuk mereka makan.
mereka jadi buta untuk aplikasikan perspektif holistik jika harus sikapi tindak-tanduk minoritas kerumunannya.
jadi serba ego.
bikin aku melonggo tiap lihat tingkah lucu mereka.



kuda-kudaan?
aaahh.. aku lelah, Tuhan.

apa lagi yang hendak Kau sampirkan di atas punggungku?

4 bulan lalu.
rantai objektifitas potensial anomie telah Kau sampirkan di untai rapuh tulang punggungku.
itu tak cukup menantang pula bagi-Mu, sehingga benang kusut kata-kata buat semua layak dikata salah makna dan terima bagi pihakku, kau sisipkan pula sebagai beban.
segala amarah.
segala salah sangka.
aku nampak salah.
kau tahu?
mereka tidak lagi menyodorkan selimut hangat berajut tawa tulus.
mereka jadi pada kelu untuk sekedar mengaku kalau kita masih akan terikat jadi satu.



taruhan?
aaahh.. Kau sungguh lucu, Tuhan.

apa lagi yang akan kau pertaruhkan di altar pertandingan?

7 bulan lalu.
saat itu, kupertaruhkan air perasan rasa yang telah lama Kau beri secara cuma-cuma.
lalu Kau sandingkan ia dengan jaminan goresan warna yang lebih beragam di sampul depan kehidupan baruku.
sayangnya,aku kalah.
rasa itu berubah.
menjadi asa yang mengkerak di dasar panci hati.
namun itu tak cukup pula bagi-Mu.
warna yang kau lontarkan, nyatanya tak lebih dari seberkas mega manja kala senja.
kini segalanya nampak seperti TV hitam-putih membosankan, Tuhan.
cepat-cepat ingin aku rekontruksi isi agar lebih bervariasi sajiannya.



hey Tuhan
boleh aku pilihkan permainan kita kali ini?

hmmm..
bagaimana kalau kita main drama?
perannya menjadi anak umur 5 tahun yang belajar memelukis?
pasti seru..

kau tahu, Tuhan?
aku sungguh ingin melukis ulang kanvas yang 8 bulan ini aku kotori dengan cipratan cat abstrakis.
lukisan rumit dengan repetisi bodoh yang menyedihkan.
aku ingin menumpahkan cat putih di sana, Tuhan.
lambat-lambat aku ingin kembali mengisi ruang.
muntahkan pelangi tipis warna-warni dari botol-botol cat ke atasnya.
membuat kanvas itu lebih indah.
lebih hidup dan punya makna.


*Tuhan aku harap kau tak marah karena segala kata yang meluncur begitu saja dari jemariku. maaf aku belum cukup istimewa untuk dikata sebagai ummat-Mu yang baik.
kau tahu, aku mencoba untuk itu.
walau terkadang aku lelah. tapi aku mencoba.
tak ada yang aku janjikan padamu, kecuali hatiku yang tak akan berpihak pada irrasionalitas moral dengan mengkucilkan semut-semut kecil di ladang permainan-Mu ini.

Monday, January 31, 2011

Biar Birahi Tahu Diri

Aku mau kamu menjamahku hingga fajar menyingsing
Dengan segala sentuh hangat dan selimut nafsu yang menyengat
Bergeliat geli penuh nikmat serba kilat
               
    Aku mau kamu melumatku hingga senja tenggelam
                Dengan segala sentuh malu yang terlupa dan birahi yang menyala
                Bergelinjang hebat karena terlalu sempit sampai terasa serba terhimpit

Aku mau kamu mendalamiku hingga mentari lelah berotasi sendiri
Dengan segala remas panas dan cambuk hingga remuk tak berbentuk
Bergetar menggelepar tertampar rasa terhempas tak gentar
               
    Aku mau kamu meniduriku hingga embun pagi enggan tampakan diri
                Dengan segala jerit melilit sampai nafas saja terasa sulit
                Berebah berdua tak tentu ke segala arah

Aku mau kamu menciumku sesingkat angin buat dedaunan terangkat
Dengan segala sayang yang tak mungkin mudah melayang
Berbisik syahdu di telinga “biarkan waktu dan ikatan sah yang beri semua itu…”
               
    Aku mau kamu tetap denganku
                Dengan segala kesetiaan yang sederhana tanpa perlu agungkan cinta
                Berjalan beriringan tapaki kehidupan walau tanpa bermacam ilusi birahi menyesatkan