Ada kalanya sesuatu yang kau anggap adalah sebuah kehendak bebas, menjadi terbatas ketika orang lain merasa hal tersebut juga mengusiknya pula. Ketika urusan pribadi tak lagi hanya milik satu dua orang, tetapi juga menyangkut prilaku berbeda yang tak dikehendaki khalayak. Banyak yang menuntut. Namun tak bicara. Hanya diam serba rapat. Namun berjalan di tempat dalam diam.
Adakah perempuan lain dengan seorang lelaki yang memiliki 'beban kepercayaan di pundaknya' juga merasakan hal yang sama? Tatkala kebersamaan yang mereka putuskan menjadi suatu yang pantas dipersalahkan di mata orang lain.
Jika kiranya setapak menuju bangku taman itu tak semulus yang diharapkan, apakah itu menjadi sebuah landasan yang harus selalu dipermasalahkan jika nyatanya setapak tersebut sudah sama ratanya dengan aspal jalan-jalan perkotaan?
Waktu nampaknya tak berniat menghampiri, untuk sekedar memanjakan tubuh kami agar dapat bersandar sebentar di pondokan kayu tua yang nyaris lapuk dimakan bicara. Segala nampak biasa saat kami mulai masuk, guna melihat apa nian yang ada di dalamnya. Tetapi si pondokan reyot itu runtuh begitu saja, ketika kami mulai melangkahkan kaki keluar dari daun pintu yang menggelayut malas pada engselnya. Lantai berderit jerit. Mencicit tak karuan. Tepat setelah punggung-punggung kami melewati sisi-sisi serupa porselen pada detik sebelumnya.
tak harus mengerti apa yang kubicarakan di sini. bagiku, bermain kata sungguh kegiatan bodoh yang menyenangkan. merangkai rasa lewat aksara yang hanya diri sendiri ketahui. :)